Polisi dan Dua Pelajar Tewas Ditabrak

BELAWAN, JAM 08.30 WIB Sepanjang Kamis (7/5) kemarin, jalan raya makan tiga korban. Seorang polisi dan dua pelajar, meregang nyawa di tiga lokasi berbeda, akibat kecelakaan lalulintas. Paling tragis menimpa Bripka Rindu Manurung (48). Sejatinya, tugas personel polisi lalulintas ini adalah mengatur lalulintas agar aman, lancar dan tidak terjadi kecelakaan. Tapi, perjalanan hidupnya berakhir, akibat kecelakaan lalulintas. Ceritanya, kemarin (7/5) pagi sekira jam 08.30 WIB korban mengatur lalulintas di Jalan Resulian Belawan. Tak jauh dari situ, Selamet Hariady Ritonga (17) warga Jalan Baru Lingkungan 15, Kelurahan Terjun, Medan Marelan mengemudikan angkot Morina line 22 BK 1819 BD. Di Jalan Maden Lama, supir angkot itu menyerempet pengendara kreta. Ketakutan, Selamet berusaha melarikan diri menuju Belawan. Sampai di kawasan Pompa, Bripka Rindu Manurung melihat supir itu mengemudikan angkot melawan rambu lalu lintas. Korban lantas menyetopnya untuk melakukan pemeriksaan surat menyurat. Bukannya berhenti, Selamet malah menabrak suami Boru Munthe itu sampai terjatuh dan masuk ke kolong angkot. Bahkan, korban sampai terseret sejauh 200 meter. Warga yang melihat kejadian itu sempat menjerit. Namun jeritan warga tidak dihiraukan Selamet dan dia terus melaju. Setelah warga memblokir jalan, barulah Selamet menghentikan angkotnya. Selamet kemudian diamankan, dan korban dilarikanke RS TNI-AL di Jalan Bengkalis, Belawan. Karena kondisi lukanya sangat parah, penanganan korban dirujuk ke RS Elisabeth Medan. Korban mengalami luka parah pada bagian wajah koyak dan badan remuk. Akhirnya, korban tak dapat tertolong dan menghembuskan napas dalam perawatan. Kasat Polantas Polres KP3 Belawan AKP A Manullang didampingi Kanit Polantas Belawan Iptu Surbakti membenarkan kejadian itu. “Tersangka bersama angkotnya dalam pengamanan dan pemeriksaan polisi,” ujarnya sambil berjalan untuk melayat ke rumah duka. Di Tanjungmorawa truk fuso BK 9271 DJ disupiri M, warga Dusun Sei Basah, Desa Tadugan Raga, Kecamatan STM Hilir, Deli Serdang melindas Wahyu (15) pengendara kreta Honda Supra X BK 6068 UE. Akibatnya, Wahyu tewas di lokasi tabrakan, malam Kamis (6/5) sekira jam 22.00 WIB. Korban merupakan siswa kelas III SMP di Tanjungmorawa. Ia berdiam di Dusun III, Desa Dagang Kelambir, Kecamatan Tanjungmorawa. Malam itu, Wahyu mau pulang ke rumah dari simpang Permina. Dari keterangan saksi mata di lokasi kejadian, awalnya korban dan truk itu jalan searah menuju Desa Dalu Sepuluh. Korban masih berada pada posisi di belakang truk. Saat hendak mendahului truk di Jalan Sei Belumai Hilir, tepatnya di Dusun I, Desa Tanjungmorawa A, dari arah berlawanan datang pengendara kreta. Stang kedua kreta itu bersenggolan. Wahyu lantas terjatuh ke aspal dan pas tergeletak di bawah ban belakang truk. Sedangkan pengendara kreta satu lagi terjatuh ke parit. Seketika itu, kepala Wahyu terlindas ban truk bagian belakang hingga pecah dan tewas di lokasi kejadian. Pelajar lainnya meregang nyawa di Jalinsum depan kantor Kepala Desa Firdaus, Sei Rampah, Selasa (7/5) jam 11.30 WIB. Saat itu, Achmad Bayu Fakhrul Rozi (17) pelajar kelas 3 IPA SMA Negeri I Sei Rampah, pulang Ujian Akhir Sekolah (UAS). Dari arah Matapao korban mengendarai kreta Yamaha Jupiter Z BK 3710 ON. Saat melintas di lokasi kejadian korban mencoba mendahului bus. Tapi, tiba-tiba stang keretanya menyenggol badan belakang bus, hingga korban tercampak ke kanan badan jalan. Dari arah depan truk tangki CPO BK 8348 CE yang dikemudikan Pairun meluncur kencang. Tanpa ampun tubuh korban langsung dilindas. Akibatnya seluruh isi perut korban terburai dan pelajar itu meregang nyawa di lokasi kejadian. Ayah korban, Rachmat Siregar (42) tak kuasa melihat jenazah anaknya di RSUD Sultan Sulaiman. Keluarga korban juga ikut menangis dan menjerit. Kapolres Sergai AKBP Drs Eri Safari melalui Kasat Lantas Sergai AKP Moch Ikhwan membenarkan kejadian ini. “Untuk pemeriksaan selanjutnya sopir truk tangki diamankan di Mapolres Sergai,” kata Ikhwan.

Mei 8, 2009 at 8:15 am Tinggalkan komentar

Mulut Centeng Kebun Dikoyak Parang

TAMORA, JAM 09.20 WIB
Polisi menangkap maling suatu prestasi. Tapi, centeng kebun menangkap maling bisa menjadi bala. Muhammad Idris (35), contohnya. Keberhasilan centeng PTPN II kebun Patumbak ini menangkap maling, justru membawa petaka.

Warga Dusun IV, Desa Tadukan Raga, Kecamatan STM Hilir, Deliserdang ini dihujani bacokan oleh abang adik Manus Baris dan Markus Barus, Kamis (16/4) sekira jam 09.20 WIB. Akibatnya, M Idris harus dilarikan warga ke RSGL Tobing PTPN II Tanjungmorawa, karena mengalami luka bacokan di kepala dan mulut.
Peristiwa itu, dicipu penangkaan dua maling sawit dan satu unit mobil Taft Rocky di areal lahan Afdeling I PTPN II Kebun Patumbak, Selasa (31/3) lalu.
Kepada Metro 4 Jam, M Idris dengan terbata-bata, karena mulutnya mendapat banyak jahitan, menceritakan nasib sial yang menimpanya. Kamis pagi kemarin, dia duduk di warung milik Paimin (54) di Dusun IV. Tidak lama, istri Manus datang dan langsung marah-marah. Menurut wanita muda itu, mobil miliknya ditangkap, karena pengaduan M Idris kepada pihak perkebunan.
Namun tudingan itu dibantah korban. Menurutnya, saat itu memang kebetulan dia sedang bertugas menjaga buah sawit, karena perinah dari PTPN II. Tapi, Idrus membantah memberi laporan kepada pihak PTPN II.
Tapi, jawaban itu tidak membuat puas istri Manus. Akibatnya, suasana langsung memanas. Apalagi Manus dan saudaranya Markus, menyusul ke warung tersebut sambil menenteng parang panjang. Takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, Idris kabur dari pintu belakang warung.
Melihat itu, Manus dan Markus langsung mengejar korban. Tak jauh berlari, M Idris tersandung dan jatuh. Kesempatan itu tak disia-siakan Manus. Dia langsung mengayunkan parangnya ke bagian belakang kepala korban. Bacokan berkali-kali yang dilakukan Manus membuat kepala dan mulut korban koyak. Akibatnya, kepala M Idris mendapat 15 jahitan dan mulutnya 12 jahitan.
Melihat kejadian itu, Muliadi selaku Kepala Desa Tadukan Raga, STM Hilir langsung memberikan pertolongan dan menyelamatkan M Idris ke dalam rumahnya. Kemudian, warga yang lainnya langsung berdatangan dan melarikan M Idris yang sudah bersimbah darah ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis.
Kejadian itu sampai ke ADM Kebun Patumbak, Ir Guntur Ginting. Ginting langsung membawa keluarga korban ke Polres Deliserdang untuk membuat pengaduan. Pengaduan mereka sesuai dalam surat pengaduan di Polres DS yang bernomor STPL 132/IV/2009/DS tertanggal 16 April 2009 yang diterima oleh KA SPK Ipda J Penjaitan.
Dalam surat STPL tersebut, pelaku dijerat dalam Pasal 170 Jo 351 KUHPidana. “Polisi masih melakukan pemeriksaan kepada korban dan saksi-saksi,” jelas Kasat Reskrim Polres Deli Serdang AKP Ruruh Wicaksono SiK saat dihubungi melalui ponselnya.
Seperti diketahui, Selasa (31/3) sore sekira jam 14.00 WIB, dalam keadaan babak belur, Suparlan (35) dan M Safii (26) keduanya warga Dusun IV, Desa Tadukan Raga, STM ini serta satu unti mobil Rocky berisi sawit curian digiring petuas Satpam PTPN II kebun Patumbak ke Mapolres Deliserdang.
Keduanya tertangkap tangan petugas Pam Swakarsa Perkebunan BUMN itu, ketika tengah memanen buah sawit di areal Afdeling I Desa Tadukan Raga, Kebun Patumbak. Sebelum digiring ke kantor polisi, Suparlan dan M Safii sempat dibonyokin oleh petugas Pam Swakarsa.
Dari tangan kedua ninja sawit ini, petugas berhasil mengamankan 10 janjang buah sawit serta 1 unit mobil Taft Rocky BK 111 DT yang diketahui milik seorang agen buah sawit asal Desa Tadukan Raga bernama Manus Barus.
Namun belum diketahui keterlibatan Manus Barus. Sebab Suparlan dan M Safii masih membantah keterlibatan agen buah sawit ini atas aksi pencurian yang mereka lakukan. Saat ini, keduanya telah ditahan dan dijerat Pasal 363 KUHPidana.

April 17, 2009 at 9:03 am Tinggalkan komentar

Pembunuh Istri Guru Besar FE USU Dibekuk

MAPOLDASU, JAM 09.30 WIB
Walaupun masih dirundung duka, keluarga guru besar FE USU, Prof Bachtiar Hasan Miraza, mulai lega. Kurang dari 3 x 24 jam, pelaku pembunuh Onaya Sitty Kadarsih, dibekuk. Tersangka, Andi Sitompul (26) mengaku, merampok karena butuh duit.

Warga asal Sibolga itu, ditangkap tim gabungan Reserse Poldasu dan Poltabes di kawasan Jalan Jamin Ginting Gang Aristha Padang Bulan Medan, Rabu (15/4) sekira jam 00.30 WIB.
Selain mengamankan tersangka, petugas juga menyita barang bukti 2 unit handpone dan 24 macam aksesoris perhiasan milik korban. Untuk proses lebih lanjut, pria yang baru dua bulan menetap di Medan ini langsung digelandang ke Mapoltabes Medan bersama seorang teman kost tersangka berinisial AS untuk dijadikan saksi dan dimintai keterangan.
Terungkapnya kasus perampokan disertai pembunuhan ini berawal dari keteranangan sakai-saksi, termasuk Prof Bachtiar Hasan Miraza. Setelah keterangan para saksi dicocokkan, petugas lalu melakukan penyisiran.
“Saat dimintai keterangan, korban menyebutkan ciri–ciri pelaku. Berdasarkan kecocokan keterangan yang diperoleh pihak kepolisian dengan keterangan saksi–saksi, dari sinilah polisi berangkat untuk melakukan penyelidikan,” ujar Kabid Humas Poldasu Kombes Pol Drs H Baharudin Djafar Msi didampingi Kapoltabes Medan AKBP Imam Margono kepada Metro 24 Jam.
Tersangka sendiri kepada petugas yang memeriksanya mengaku, nekat merampok karena butuh duit untuk kebutuhan sehari-hari. Saat kejadian, Sabtu (10/4) sekira jam 20.30 WIB, dia melintas di rumah korban dari jarak 20 meter.
Tanpa sengaja, dia melihat pintu lantai II rumah korban terbuka. Melihat ada kesempatan, timbul niatnya untuk mencuri. Sebelum beraksi, tersangka sempat pulang ke tempat kost untuk mengambil linggis.
Kemudian, dengan memanjat pagar, tersangka menuju ke lantai II. Sebelum melakukan aksinya, terlebih dahulu tersangka bersembunyi di salah satu ruangan yang ada di lantai II rumah tersebut.
Setelah situasi aman, tepatnya jam 24.00 WIB, tersangka turun ke lantai I untuk beraksi. Saat menjalankan aksi, tersangka melihat Prof Bachtiar keluar dari dalam kamar menuju ke dapur. Melihat itu, tersangka langsung menuju ke kamar korban. Di dalam kamar itu, tersangka mengambil 2 unit handpone dan 24 macam aksessoris (perhiasan imitasi) milik korban.
Ketika hendak kabur, tersangka melihat Prof Bachtiar keluar dari dapur menuju ke kamar. Takut aksinya kepergok, tersangka coba bersembunyi di kamar mandi yang ada di kamar korban. Di dalam kamar, Prof Bachtiar curiga karena ada suara ribut dari balik kamar mandi.
Prof Bachtiar membuka pintu kamar mandi. Saat itulah, tersangka langsung mengayunkan linggis yang dibawanya ke kepala kiri Bachtiar. Mendengar jeritan korban, Naya, sapaan akrab Onaya Sitty Kadarsih, terbangun.
Tanpa belas kasihan, kepala Naya juga dipukul tersangka pakai linggis hingga berulang kali. Setelah kedua korban tidak berdaya, sekira pukul 02.30 WIB, tersangka kabur dari lantai II rumah korban sembari membawa 2 unit handpone dan aksessoris perhiasan korban.
Sekira pukul 05.30 WIB, cucu korban, Uci terbangun dan melihat kakek dan neneknya sudah tergeletak di lantai kamar.
“Saat penangkapan, petugas menyita semua barang bukti. Rencananya barang bukti tersebut, Rabu akan dijual untuk ongkos pulang ke Sibolga,” kata Baharudin.
Dikatakan, saat diringkus, tersangka sedang istirahat di tempat kos-kosannya. Tersangka, tidak melawan saat diringkus.
Dari pengakuan tersangka, tambah Baharuddin, perbuatan itu dilakukan murni perampokan dan tidak ada motif dendam atau lainnya. “Sebab, korban dan tersangka tidak saling kenal sebelumnya,” ujar Baharuddin.
Kini, tersangka masih diperiksa secara intensif oleh petugas di Mapoltabes Medan. Selama menjalankan pemeriksaan, tersangka mengakui segala perbuatannya. “Saya nekad mencuri karena sangat butuh duit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” aku tersangka.
Usai diperiksa, tersangka langsung dijebloskan ke balik jeruji untuk mempertanggung jawabkan segala perbuatannya. “ Kini tersangka sudah mendekam di sel tahanan dan diancam hukuman maksimal 15 tahun kurungan penjara karena terbukti melanggar Pasal 365 KUHPidana ayat 3 dan 4, tentang pencurian yang disertai dengan kekerasan dan mengakibatkan kematian,” tegas Baharudin.
Selain itu, Baharudin juga menghimbau kepada masyarakat yang tinggal di areal perumahan agar lebih berhati–hati. “Sebaiknya sistem pengaman dibenahi dengan sempurna. Di antaranya dengan membuat pintu masuk ke areal perumahan hanya 1 pintu saja, sehingga memudahkan petugas keamana setempat untuk memantau siapa saja yang keluar dan masuk ke pemukiman tersebut. Kemudian, membuat CCTV di sekitar pemukiman, alarm  sistimatis, serta membuat akses dengan kepolisian setempat. Yang paling inti, apabila ada kejadian di sekitar pemukiman diharapkan kepada masyarakat jangan memegang sesuatu di sekitar TKP, sehingga memudahkan petugas melakukan penyelidikan,” pungkas Baharudin.

April 16, 2009 at 7:55 am Tinggalkan komentar

Puluhan PNS Keracunan Makanan

Jalan Karya, Jam 11.00 WIB Gedung Balai Diklat UPT SLB-E di Jalan Karya/Guru Sinumba Medan, Selasa (14/4) jam 11.00 WIB, mendadak heboh. Puluhan PNS yang sedang mengikuti Diklat pra jabatan, tiba-tiba muntah-muntah, usai menyantap nasi soto. Catatan Metro 24 Jam, sekitar 24 peserta yang mengalami keracunan makanan. Empat di antaranya terpaksa dilarikan ke RSU Sufina Aziz, karena kondisinya cukup parah. Mereka masing-masing Nursaidah (29) asal Madina, Misbah (30) asal Madina, Sondang Sagala (31) asal Medan dan Yuni (29) asal Sergai. Sedangkan 20 korban lainnya hanya dirawat di ruangan Balai Diklat UPT SLB-E. Begitupun, enam peserta harus diinfus masing-masing Abdillah Nasution, Deita Simbolon, Samsul Bahri, Amrin, Melinda dan Nova. Peristiwa tersebut terjadi sesaat setelah pembekalan. Saat itu, peserta diklat yang berjumlah 223 orang istirahat untuk makan siang. “Kami sudah sebelas hari ikut Diklat. Sesaat setelah pembekalan, kami makan nasi soto. Tiba-tiba perut kami mual-mual dan muntah-muntah. Bahkan ada yang sampai pingsan,” kata Zainal, salah seorang peserta. Sementara itu pemilik katering Jati Waringin yang ditunjuk panitia untuk menangani konsumsi selama diklat berlangsung sejak tanggal 30 Maret hingga 24 April, Koko (42) mengatakan, siang itu dia menyajikan hidangan nasi soto serta hidangan lain seperti telor, daging ayam serta perkedel. Namun setelah selesai sarapan menyantap hidangan yang disediakan, para peserta diklat tiba-tiba mengalami pusing, mual serta muntah-muntah. Dilanjutkan Koko, setiap makanan yang disajikan dimasak di rumahnya. Hal sama dikatakan istrinya, Andalusia. Menurutnya, makanan yang dihidangkan dimasak di rumah. ”Kita masak sendiri di rumah, selanjutnya dibawa ke mari dan dibagi oleh pelayan yang juga pekerja kita,” katanya. Sementara, Kapolsek Helvetia AKP Faisal Napitupulu kepada wartawan mengungkapkan, pihaknya masih menyelidiki penyebab keracunan tersebut. “Sisa-sisa makanan sudah kita bawa untuk diperiksa,” tegasnya. Kepala Bidang Diklat Badan Diklat Propinsi Sumatera Utara, Mangasi Mungkur SH menegaskan peristiwa keracunan makanan yang dialami puluhan peserta diklat tersebut sudah ditangani secara serius. “Kita belum tahu penyebab dari peristiwa itu. Sampel sisa dari makanan sudah dibawa pihak dinas kesehatan untuk diperiksa,” ujarnya. (ofin/rom/feri)

April 15, 2009 at 8:20 am Tinggalkan komentar

Pelaku Hafal Kebiasaan Bachtiar Hasan Miraza

JALAN A SOPIAN, JAM 05.00 WIB
Peristiwa pembunuhan dan perampokan yang terjadi di rumah Prof Bachtiar Hasan Miraza, benar-benar telah direncanakan para pelaku.
Bahkan pelaku diduga hafal dengan kebiasaan korban yang selalu keluar kamar setiap jam 04.30 WIB pagi.

Hal itu dikatakan Kania (40) putri ketiga pasangan Bachtiar Hasan Miraza dengan Almarhum Onaya Sitty Kadarsih. Menurut Kania, berdasarkan keterangan tetangganya, Br Butarbutar, peristiwanya terjadi sekitar jam 04.30 hingga jam 05.00 WIB pagi.
Kepada Metro 24 Jam, Kania menunjukkan pintu balkon di lantai II yang sudah dirusak. Pintu tersebut telah dirusak menggunakan linggis. Setelah masuk, pelaku turun ke bawah dan menggigit kabel telepon hingga putus.
Menurut Kania, setelah merusak pintu balkon lantai II, pelaku turun dan diduga menunggu ayahnya keluar kamar. Kebiasaan ayahnya, lanjut Kania, setiap jam 05.00 pagi keluar kamar.
“Pelaku mungkin tahu kebiasaan papi yang bangun setiap jam 05.00 WIB pagi. Jadi begitu turun dari lantai atas dia nunggu papi keluar kamar. Kalau pintu didobrak, pasti ribut dan aksi mereka bisa ketahuan. Selama menunggu, pelaku memutus kabel telepon dengan menggigitnya,” kata Kania.
Setelah bangun dan keluar kamar, Bachtiar Hasan Miraza terkejut karena ada orang di dalam rumah. Saat ditanya, pelaku mengatakan ingin minta uang. Tapi, Bahctiar menolak permintaan tersebut.
“Karena nggak diberikan, perampok tersebut langsung mukul papi pakai linggis hingga jatuh. Sesaat setelah papi jatuh dia mukul mami. Udah itu leher mami diikat pakai tali pinggang dan kepala mami juga dipukul pakai linggis. Kejadian itu, sekitar jam 06.30 WIB. Mungkin karena dengar suara gedor-gedor dari Wak Ipah tukang kusuk yang biasa ngusuk papi dan mami tiap hari minggu, dia langsung kabur bawa emas mami sama HP. Setelah itu, papi sambil ngesot ke kamar Suci. Bangunin Suci dan suruh hubungi saya,” kata Kania.
Kania sendiri tiba di rumah sekitar jam 07.00 WIB bersama abang sepupunya. Saat itu, Kania melihat ibunya Onaya dan Prof Bakhtiar tergeletak berlumuran darah. Onaya ditemukan tergelatak di tempat tidur dengan posisi terlentang bersimbah darah bersama linggis di bawah kakinya. Sedangkan sang ayah tergeletak sambil meraung kesakitan di depan kamar sang cucu.
“Begitu tiba aku lihat mami masih hidup dan bernafas. Aku pikir pingsan. Jadi langsung aku lihat papi yang meraung kesakitan. Setelah aku lihat langsung aku gendong papi ke mobil, tiba-tiba Uci bilang nenek udah nggak ada. Aku periksa posisi mami udah berubah arah terlentang ke miring. Saat itulah mami menghembuskan nafas terakhirnya. Kami langsung bawa papi ke rumah sakit. Sedangkan, mami dibawa setelah papi, karena udah meninggal,” ujarnya.

April 14, 2009 at 8:14 am Tinggalkan komentar

Ditikami 9 Liang Kereta Dibawa Kabur

LANGKAT, JAM 20.30 WIB
Hanya gara-gara kreta, maut nyaris menjemput Muhammad Arbi Prawira (20). Tikaman 9 liang yang dilakukan karibnya, Joko, tak sampai merenggut nyawa mahasiswa salah satu universitas di Medan itu. Namun kreta Suzuki Satria FU BK 2619 SO miliknya dibawa kabur pelaku.

Peristiwa itu terjadi di Jalan Titi III Pekan Gebang, Langkat, Jumat (10/4) malam sekira jam 20.30 WIB. Kepada Metro 24 Jam, kemarin (11/4) siang, paman korban, Dedy Syahputra (34) mengatakan, malam itu, Muhamad Arbi Prawira keluar rumah mengendarai sepedamotor Satria untuk jalan-jalan.
Baru sekitar 300 meter beranjak dari rumah, rekannya Joko memanggil. Joko minta tolong diantarkan ke rumah pacarnya. “Tolonglah antarkan aku ke rumah pacarku,” kata paman korban menirukan ucapan pelaku.
Tanpa curiga sedikitpun, korban memberikan tumpangan kepada Joko menuju rumah pacarnya. Namun, dalam perjalanan, tepat di Jalan Titi III Pekan Gebang, Joko mulai memasang rencana. Saat itu, di lokasi itu juga sudah menunggu teman-teman Joko.
Saat itulah, Joko mengeluarkan pisau yang sudah disiapkannya. Tanpa kasihan sedikitpun, Joko menghujani tikaman ke tubuh korban. Masing-masing kepala 3 liang, kuping 1 liang, punggung 2 liang, perut 1 liang dan lengan 2 liang.
Akibat tikaman membabibuta itu, korban terjatuh dari sepeda motornya. Melihat korban tak berdaya, pelaku mengangkat tubuh korban yang sudah berlumuran darah dan melempar ke bawah Titi III, Pekan Gebang. Kemudian pelaku bersama temannya membawa kabur sepeda motor korban.
Korban yang masih bisa bertahan, langsung bangkit dan merangkak dari bawah jembatan. Ia mengeluarkan handphone dan menghubungi rekannya, Wahyu (20). Kabar yang diterima korban dilanjutkan Wahyu dengan mendatangi rumah korban dan memberitahukan kejadian itu kepada paman dan orangtua korban.
Saat keluarga tiba di Tempat Kejadian Perkara (TKP), korban sudah terkapar di samping tiang listrik di areal persawahan Titi III Pekan Gebang. Dari situ, korban dibawa ke RSU Pertamina Pangkalan Brandan. Paman korban membuat laporan ke polisi.
Dari RS Pertamina, penanganan korban dirujuk ke RS Adam Malik Medan.
Kapolsek Gebang AKP Budiman Karo-Karo melalui Kanit Reskrim Iptu Arius Zega kepada Metro 24 Jam membenarkan peristiwa perampokan dan penikaman itu. “Tersangka menjadi targat operasi Polsek Gebang,” ucap Iptu Arius Zega. (joko)

April 12, 2009 at 2:46 pm Tinggalkan komentar

Ditinggal Istri, Bapak 2 Anak Gantung Diri

Jalan Eka Surya, Jam 10.30 WIB
Muhammad Iqbal, tampaknya sudah mempersiapkan diri untuk meninggalkan dunia fana ini. Buktinya, sebelum mengakhiri hidup dengan gantung diri di dapur rumah mereka, dia masih sempat membelikan roti untuk sarapan kedua anaknya. Aksi nekat dilakukan lelaki pengangguran itu, karena kecewa ditinggal istri.

Jumat (10/4) sekira jam 10.30 WIB, salah satu rumah sederhana bercat hijau di Jalan Eka Surya Gang Pribadi, Lingkungan XI, Kecamatan Medan Johor, Deli Tua menjadi pusat kerumunan warga. Penyebabnya, tubuh seorang lelaki yang tergantung dengan seutas tali nilon di ruangan dapur rumah itu.
Penghuni rumah yang ditemukan tewas itu bernama Muhamad Iqbal (28). Jasadnya pertama sekali ditemukan oleh adik kandungnya, Ade Wulansari (22), yang hendak ke kamar mandi.
Ketika ditemui Metro 24 Jam, Ade Wulansari yang saat itu mengenakan baju merah sedang duduk menangis sembari memangku seorang bayi. Bayi itu adalah anak bungsu Muhammad Iqbal.
Kepada Metro 24 Jam, Ade menuturkan, dia sama sekali tidak menyangka abangnya bakal mengambil tindakan senekat itu. Soalnya, beberapa saat sebelumnya, dia melihat Muhammad Iqbal masih tidur-tiduran di ruang depan rumahnya. Korban juga masih sempat membeli rokok dan jajanan roti untuk sarapan anaknya.
Namun, beberapa jam kemudian, tepatnya jam 10.30 WIB saat akan menuju ke kamar mandi, Ade terkejut melihat sang abang telah tewas tergantung di atap-atap langit dapur rumah mereka.
Lebih lanjut, adik ketiga korban mengatakan, selama ini abangnya yang tidak memiliki pekerjaan tetap itu, diketahuinya tak pernah terlibat masalah dengan orang–orang. ”Hanya saja, sekitar dua bulan lalu, tepatnya bulan Februari tahun ini, rumah tangganya retak. Dia ditinggal istrinya,” kata Ade.
Istrinya, Neti, kata Ade, pergi meninggalkan abangnya dan dua anak buah perkawinan mereka yang masih kecil. Masing-masing Rizki Aditya (2,3) dan seorang lagi bayi berusia 5 bulan.
”Dua bulan lalu, istrinya pulang ke rumah orangtuanya di daerah pinggiran rel di Jalan Suka Raja Medan. Sejak itulah abang sering diam dan mengurung diri. Kalau mamak masih kerja di Malaysia,” kata Ade sembari menangis.
Sementara itu, Kapolsekta Deli Tua AKP Bostang Panjaitan melalui Kanit Reskrim Iptu Aron Siahaan mengatakan, korban tewas murni karena gantung diri.
Pantauan Metro 24 Jam di lokasi kejadian, korban tergantung dengan tali nilon warna hijau di dapur rumah mereka. Sementara di sampingnya sebuah bangku kecil dari kayu telah terbalik.
Diduga korban bunuh diri menggunakan bangku tersebut. Setelah mengikatkan tali ke lehernya, korban kemudian menendang bangku tersebut, sehingga lehernya tergantung hingga tewas dengan kaki terlipat. Mulut korban juga mengeluarkan buih. (riki)

April 11, 2009 at 11:38 am Tinggalkan komentar


Kategori

  • Blogroll

  • Feeds


    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.